Karena Sarka
Hanya seminggu dia langsung nembak ?? Apa nggak terlalu cepat, tuh, kembali Ove memastikan.
Saat terdengar derit pintu terbuka, Ove seperti menemukan sebuah sosok yangjauh banget dari Kara, sahbatnya. Kara segera memeliknya erat lantas menaruh tas besarnya dan ikut merebah duduk di tepi ranjang Ove. Nyaris Ove terlomjak lantaran Kara begitu saja melepas diri dari atas ranjang. “Nggak biasanya kamu datang siang –siang begini, lagiant tuh muka kelihatan senang amat. Nemu resep ajaib buat ngilangin streeess ???”
Kara nggak mengangguk, nggak menggeleng dan nggak melepas satu kata pun. Ia membiarkan Ove melontarkan beberapa pertanyaan. Sedang dirinya hanya tersipu malu diam-diam. Ove menatap tas besar Kara, “Baru dari pekan raya?? Ngeborong semuanya??
Dan kamu lagi kebanjiran duit??” “Bukan gitu juga sih…..” Kara menghela napas.
“Lantas?????”
Kara perlahan bersimpul senyum dan menyentuh guling Ove. Dipikul-pikulnya lembut benda itu hingga puas.” Aku baru aja nenmu pangeran aku…..” tuturnya pelan.
“Pangeran????”
Kara menganguk dan melipat kaki bersisla diatas ranjang. Ove ikut-ikutan antusias seperti Kara. Kebiasaan memang, saat salh satu menggenggam kebahagiaan, rasanya nggak enak kalo nggak dibagi-bagi. Dengan degupan jantung berdetak dua kali lebih kencang, perlahan Kara bercerita. Kali ini matanya bersbinar seolah sepuluh cahaya bintang nangkring dibola matanya.
“Pangeran aku, Sarka….”
“Sarka….?? Sarka Danovan ??
“Nggak salh kok, emang dia…”
Jawab Kara yang tak meninggalkan sentum lebarnya. Buru-buru Ove menarik napas. “Yang anak Basket itu ??
“ Iya siapa lagi. Sarka, kapten basket kita.
“ Bukanyadia lagi ngejalanin hubungan dengan Uchi…??” Pve seakan masigh nggak percaya. Nggak lagi, katanya mereka udah putus kok seminggu ini. Dan kamu tau tiga hari kemarin SArka nembak aku. Lalu kamu nerima dia begitu saja ??
Kara kembali mengangguk. “siapa sih yang nggak mau pacarnyan dia. Pacar seorang cowok keren, kapten basket pula. Dan aku nggak mau ngelewatin keadaan ini. Toh aku nggak ngerebutin siapapun.” Ove memutar-mutar Bola mata. Sebenarnya dia berimpian juga memeiliki seseorang seperti Sarka. NAmun berita yang seharusnya gembira ini, mentah-mentah nggak ditelannya. Menurutnya agak aneh saja. “Cinta…… gak semudah itu. Apalagi pindah kelain hati dengan cepat sekali. Belum cukup satu minggu putus dari Uchi, dia udah nembak kamu. Ini diluar logis. Kamu mesti mikir dua kali,” Ove mencoba menasehati. “Aku udah mikirin hal itu. Aku rasa nggak janggal, kok. Dia tulus. Kali aja dia nggak menemukan cinta lagi dari seorang Uchi. LAlu sekarang, dia menemukan cinta di diri aku,” ujarnya mantap. Ove hanya menatapnya dengan raut setengah nggak percaya.
Membayangkan hubungan Sarka dan Uchi, sama halnya membayangkan seorang putri dan pangeran. Dan itu seratus persen diakui Ove. Bagaimana nggak, seorang cowok yang jago basket berpasangan dengan bintang kelas. Nggak dipungkiri pula beberapa orang sangat ingin memiliki hubungan seperti mereka. Langgeng dan serasi banget. Ove ingat, beberapa hari yang lalu dia mendengar hubungan Sarka dan Uchi goyah, namun nggak sekalipun mengira kalo mereka bakal putus. Dan justru paling membingungkan adalah kara menjadi pengganti Uchi. Ove masih berpikir saat pikirannya nggak dapat menemukan titik sambung antara Kara dan Sarka. Kara terkenal jomblo, malah dia nggak akrab-akrab amat dengan sosok Sarka. Yang dia tahu dari sahabatnya itu, Kara nggak pinter-pinter amat, palingan pernah meraih juara putrid sekolah, itu pun tahun lalu. Lalu sejak kapan merka dekat?? “Kami dekat baru beberapa minggu ini kok” jawab Kara dengan lembut.
“Hanya seminggu ini langsung nembak?? Apa nggak terlalu cepat tuh ?? kembali Ove memastikan.
“Aku rasa nggak.”
Lagi-lagi jawaban Kara mematahkan keraguan Ove. Sebenarnya sebagai cewek Ove hanya mengkhawatirkan Kara.
Tapi Ove harus menyadari, hubungan itu udah berjalan lima hari nyaris nggak ada problem. Lumrah terjadi bukan ?? Hubungan cinta diawal memang selalu manis, apalgi hubungan itu belum sebulan berjalan. Ove nggak cukup sabar untuk menanyakan keyakinan Kara, namun seperti yang udah-udah, Kara tetap menampik semua keraguan Ove. Katanya nggak perlu diragukan, karena hubungan mereka sebenarnya udah klop meski kelihatan terburu-buru. Proses perkenalan lebih dalam bias terjalin saat proses pacaran nanti. Perlahan Ove mengambil jalan tengah yang dipikirannya paling bijak, dia bakal mengukung Kara, apapun itu.
Dua minggu lebih, Ove kehilangan sedikit waktu dengan Kara Kara terlampau sibuk dengan dengan pangerannya. Bahkan Kara jarang kerumah Ove sekarang. Ove dibuat bingung sendiri, kenapa hubnungan Kara dengan seorang Sarka Danovan, nggak begitu meledak nggak seperti hubungan cowok itu dengan ceweknya yang terdahulu. Malahan saat ini nyaris seisi kelas, masih membuat asumsi kalau Sarka dan Uchi masih ngejalanin hubungan. Sebelum rehat berakhir, Kara mengjak Ove menyantap bakso di kantin sekolah. Ternyata sabatnya ini menyadari bahwa belakngan ini mereka jarang ketemuan. Sekedar makan bareng, ternyata mengasyikan. “Kamu harus tahu apa yang aku pikirin sekarang, Meski kali ini wajah Kara nggak tampak ceria seperti tadi namun kedua buah lesung pipit diwajahnya seolah menyamarkan perasaan itu.
“Maksud kamu”. Secara refleks Ove dapat menangkap alur maksud Kara. Dia menghentikan gerakan sendok. “Aku rasa, Sarka masih menjalani hubungan dengan Uchi.” Mendadak kaget menyerang Ove. Dia ingat kalo beberapa hari lalu melihat Sarka dan Uchi jalan bareng. Tapi nggak mau terlalu ikut campur, apalagi menanyakan kedekatan mereka. Ove berusaha tenang. “ Beberapa kali aku nemuin mereka,” Kara meneruskan cerita. “Diam-diam dibelang kamu ??
Kara mengangguk. “Tapi dia selalu menjelaskan. Nggak ada apa-apa. Dia bilang meski hubungan itu berakhir tapi nggak berarti hubungan persahabtan itu putus. Ove mendesah dan memandang sedih sahabatnya.
Besoknya Ove dibuat terkejut luar biasa. Kemarin-kemarin bila hari minggu seperti begini Kara mengagendakan waktunya dengan Sarka. Banyak hal yang dia lakukan tanpa Ove. Namun pagi Kara terlihat semrawut dengan hidung yang kemerahan berada dikamar mungil Ove. Matanya pun sembab dengan genagngan air diujung-ujung kelopak mata. “Kamu kenapa, Ra…” Ove menangkap gurat kesedihan itu.
“Aku… Aku…” Kara nggak punya cukup kata untuk melanjutnkan kalimatnya. Bibirnya bergetar, hingga nggak kuasa memeluk erat tubuh sahabatnya. Ove menapang tubuh itu sebentar. Sejenak menelungkup di pundak orang lain membuat Kara nyaman. Ove segera mengambil tisu dan menyodorkannya pada Kara. Sahabatnya itu terlihat melipat-lipat tisu sebelum menyekanya pada ujung-ujung matanya.
“Kamu certain dong apa yang sebenarnya terjadi”.
“kata kamu betul, Ve. Cinta yang datang dengan cepat bakal pergi juga dengan cepat.”
“apa ini ada hubungannya dengan Sarka ?? jangan bilang kamu putus dengan dia….” Bener……… Kara nggak menampik. Kita udah bubaran. “Bubar………?? Suara Ove merendah keduanya berdiam Ove membiarkan menghapus air matanya. Dia nggak bisa menyembunyikan perasaan lain dalam dadanya. Sebenarnya, aku dan Sarka backstreet selama dua minggu ini……….
Backstreet ???? lantas kemarin aku nanyain soal Uchi ke dia, katanya dia masih mencintai Uchi. Ternyata dia hanya jadiin aku sebagai pelampiasan cintanya agar Uchi kembali ke dia.” Air mata itu kembali menetes. Aku nggak kepikiran aja, dia setega itu. Dia hanya gunain aku sebagai objek untuk di cembruin. Dia nggak tau kalo cinta aku tuh tulus. Tulus banget dan nggak terganti.
Ove tersentak. Melihat situasi Kara, dia sudah menduga kalau ini bakal terjadi. “Tuhan…… apa yang aku khawatirin selama ini kejadian juga. Sarka menggunakan Kara hanya sebagai pelampiasan saja, sama seperti yang dilakukanya dulu… “Ove bergumam dalam diam. Dia menatap semu sahabatnya beberapa detik nuraninya ikut kembali menghujat benci Sarka untuk kesekian kalinya………